Esai dan Artikel

Habib Ali Al-Jufri: Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan

286 0 16/01/2021
Penulis
Tidak ada bio

Pada hari Senin, 14 Desember 2020, saya mengikuti dialog terbuka Habib Ali al-Jufri di Seuz University Mesir yang disiarkan langsung via Facebook di akun pribadinya. Topiknya cukup menarik, yaitu moderasi beragama (al-wasathiyah fi al-din al-islami). Topik ini menjadi topik yang sering diperbincangkan banyak kalangan di tengah isu radikalisme yang sangat menyita perhatian publik, termasuk di Indonesia .


Habib Ali al-Jufri merupakan salah seorang alim otoritatif kontemporer dan juru dakwah yang berpengaruh di dunia, baik di Timur maupun di Barat. Agenda dakwahnya tidak hanya berkutat di Timur tengah, namun juga merambah Amerika, Eropa, hingga Afrika.


Pada forum tersebut, Habib Ali al-Jufri berbicara banyak hal seputar wacana keagamaan yang bersinggungan dengan persoalan sosial-budaya, politik, hingga radikalisme. Secara umum, isu-isu yang disinggung pada forum tersebut sudah banyak diuraikan dalam bukunya berjudul Al-Insaniyyah qabla al-Tadayyun, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan yang telah terbit tahun lalu.


Pada tulisan ini, penulis akan menguraikan perspektif Habib Ali al-Jufri terkait isu radikalisme yang menjadi sebab citra Islam semakin buruk di mata dunia. Islam dituduh sebagai agama 'pedang' yang mengajarkan doktrin kekerasan (al-'unf) dan ekstrimisme (al-tatharruf).


Akar Radikalisme


Menurut Habib Ali al-Jufri, akar dari radikalisme adalah miskonsepsi terhadap doktrin jihad dalam Islam. Hal ini terjadi sebab dangkalnya pemahaman dan pengetahuan tentang syariah Islam. Akibatnya, seringkali jihad dijadikan justifikasi untuk menyerukan permusuhan terhadap komunitas non-muslim secara membabi buta (al-Jufri 2015, 184).


Ektremisme dan radikalisme yang disusul dengan tindakan terorisme inilah yang menjadi akar persoalan yang mencederai citra Islam. Ironisnya, tindakan-tindakan itu justru diklaim merujuk pada sumber-sumber otoritatif ajaran Islam, baik al-Qur'an maupun hadis. Padahal, jihad dalam Islam sendiri bukanlah semata-mata perang dengan mengerahkan kekuatan fisik, karena perang fisik dalam Islam lebih tepat disebut qital.


Di pihak lain, terorisme jelas sangat berbeda dengan jihad. Karena terorisme dalam pemikiran Islam sering disebut dengan istilah irhab (menakut-nakuti). Bahkan, dalam kamus Al-Mu'jam  al-Wasith disebutkan bahwa para pelaku teroris tidak disebut sebagai mujahidun (orang-orang yang berjihad), tetapi disebut dengan istilah irhabiyyun (para teroris).


Dalam doktrin Islam perjuangan yang dinilai paling besar adalah perjuangan spiritual dan internal yang fokus pada pembersihan jiwa dari sifat-sifat tercela dan mewujudkan keadilan sosial serta hak asasi manusia. Namun, dalam banyak kasus, konsep jihad justru telah didistorsi untuk menjustifikasi tindakan kekerasan yang bermotif politis.


Dalam konteks inilah, Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah al-Azhar (2002) dalam sebuah fatwanya menegaskan bahwa radikalisme dan terorisme tidak mencerminkan jihad dalam Islam. Terorisme merupakan tindakan keji yang tidak menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Karena pada dasarnya, siapapun yang memahami al-Quran dan hadis secara holistik dan komprehensif tidak akan menemukan ajaran yang memerintahkan aksi-aksi teror yang mengancam jiwa manusia.


Tidak heran, jika dalam paparannya, Habib Ali al-Jufri menyebut pihak-pihak yang melakukan aksi-aksi teror adalah orang-orang yang sedang sakit jiwa (al-tatharruf huwa fi al-asl maradh nafsi). Radikalisme ini disebabkan pemahaman menyimpang terhadap teks-teks keagamaan yang bertumpu pada dhahir teks an sich dan alpa terhadap aspek maqashid al-nushush (tujuan teks).


Kontra Narasi Radikalisme

Pemahaman keagamaan yang melihat permasalahan secara hitam-putih akan melahirkan sikap fanatik. Fanatisme ini disebabkan sudut pandang yang sempit dan single-minded. Sikap semacam ini cenderung akan melahirkan sikap intoleran dan tidak ramah liyan (the other).


Hal ini senada dengan apa yang dijelaskan oleh Abu Hasan al-Amiri dalam bukunya Al-I'lam bi Manakib al-Islam. Al-Amiri menyatakan bahwa fanatisme (ta'ashshub) merupakan penyakit sosial karena dapat membuat seseorang rela mengorbankan jiwa demi membela pandangan sempitnya. Bahkan, menurutnya fanatisme ini tidak hanya menjangkiti penganut Islam, tetapi merupakan persoalan yang dihadapi oleh semua agama (hadzihi afat yubtala biha ahlu kulli millah) (Al-Amiri 1988, 195).


Graham E. Fuller dalam bukunya, A World without Islam, bahkan berandai-andai seandainya tidak ada agama Islam di muka bumi pun kekerasan atas nama agama (terorisme) akan tetap terjadi. Karena Fuller menyakini Islam sejatinya tidak pernah mengajarkan terorisme dan kekerasan yang destruktif; yang terjadi adalah Islam mengajarkan doktrin jihad dengan makna yang cukup kompleks dan disalahgunakan untuk menjustifikasi kepentingan politis tertentu.


Oleh karena itu, Habib Ali al-Jufri menyerukan untuk membangun kontra narasi radikalisme ini dengan basis pemahaman Islam yang benar dan upaya menaklukkan ego diri dan hawa nafsu atas nama kepentingan agama. Hal ini karena kekerasan atas nama agama (terorisme) masih sering diklaim sebagian kalangan sebagai bentuk ekspresi keberagamaan itu sendiri.

 

Dalam konteks inilah, narasi yang dikembangkan Habib Ali al-Jufri untuk melawan radikalisme adalah jargon al-insaniyyah qabla al-tadayyun, kemanusiaan sebelum keberagamaan. Menurut Habib Ali al-Jufri, kita perlu kembali ke rasa kemanusiaan kita sehingga keberagamaan kita menjadi lebih baik. Keberagamaan kita harus terpusat pada hati, sehingga rasa kemanusiaan kita pun hidup Kembali. Kita harus menghilangkan tujuan selain Allah seperti "saya", ego diri, keserakahan, kesombongan, mencari reputasi serta popularitas dan status.


Ketika Habib Ali al-Jufri ditanya seorang mahasiswa tentang bagaimana strategi melawan paham-paham ekstrimisme yang mengatasnamakan agama, ia menjawab demikian:


"Radikalisme itu bukanlah pemikiran; radikalisme adalah kejiwaan yang
mencari pemikiran untuk dijadikan justifikasi. Orang beragama dapat terhindar
dari radikalisme dengan dua hal: ilmu agama yang benar, dan hendaknya ia menjadi
hakim untuk Allah atas dirinya, bukan hakim untuk dirinya atas orang lain."

Terakhir, radikalisme yang berujung pada terorisme yang diklaim sebagai bentuk ekspresi keberagamaan adalah kejahatan kemanusiaan yang mengancam peradaban. Oleh karenanya, jargon kekemanusiaan (al-insaniyyah) mendahului keberagamaan (al-tadayyun), dan bukan mendahului agama (al-din) menemukan elan vitalnya. Sikap keberagamaan sejatinya adalah kesadaran diri kita dalam mengekspresikan ajaran agama. Agama (al-din) harusnya dipahami sebagai pegangan hidup yang justru mengajarkan nilai-nilai humanis dan pluralis yang tidak pernah merestui aksi-aksi teroris yang "bengis". Wallahu a'lam.[]


Moh. Mufid, Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Komentar (0)

Tidak ada komentar