Sekitar pukul 05.00 sore di bulan April 2019, saya menikmati hidangan sederhana, roti bakar, bersama anak-anak muda Salafi yang baru saja mengikuti kajian. Pada awalnya, semua diam dan tidak ada yang bicara, sesekali hanya sekadar bisik-bisik kepada teman di sampingnya. Bisa dimaklumi karena pada waktu itu Pak Ustad yang baru saja mengisi kajian juga ikut bergabung bersama kami. Suasana mulai berubah cair ketika Pak Ustad mulai mengajak dialog santai dan bilang kepada salah satu peserta kajian, “Ooh, [kamu] muazin substitusi ya!”

Kalimat sederhana ini memang tampak tidak memiliki sensasi humor ketika dibaca, namun suasana saat itu sangat berbeda. Semua peserta kajian yang mendengar pada waktu itu langsung tertawa dan mulai berani berbicara dengan suara keras baik kepada teman di sampingnya maupun bertanya-tanya langsung kepada ustad, mulai dari pertanyaan santai hingga pertanyaan-pertanyaan serius seperti hukum renovasi perluasan masjid yang sudah tidak mampu menampung jumlah jamaah.

Pengalaman singkat di atas adalah gambaran sederhana bagaimana anak-anak muda Salafi memperoleh kesenangannya. Sebagian dari mereka suka mengadakan pembicaraan santai kepada teman-temannya, meskipun topik yang diobrolkan tidak jelas. Fatah misalnya, anak muda Salafi asal Jawa Timur yang sedang kuliah di Yogyakarta ini mengatakan, “Nah ngobrol sama mereka [teman-teman] itu saya merasa senang…. meskipun ngobrolnya ya nggak jelas gitu ya, hehe.”

Gambaran ini tentunya berkebalikan dengan asumsi saya sebelumnya. Setelah membaca tulisan Asef Bayat (2013) tentang politik kesenangan di Timur Tengah, awalnya saya mengira jika kelompok Muslim Salafi di Indonesia juga memiliki kecenderungan yang sama. Mereka lebih suka menjalankan ritual beragamanya daripada harus ngobrol tidak jelas dengan teman-temannya, atau mencari kesenangan-kesenangan lain yang tidak ada hubungannya dengan, atau bahkan dilarang oleh, agama.

Faktanya, di tengah keseriusannya menjalankan aturan-aturan Islam dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari, para pengikut Salafi, terutama yang masih muda, masih berusaha mengelola waktu sebaik mungkin untuk tetap memperoleh kesenangan.

Aktivitas yang dirujuk mereka untuk memperoleh kesenangan bervariasi. Selain obrolan santai seperti digambarkan singkat di atas, ada juga naik gunung. Bagi sebagian anak muda Salafi, kegiatan ini buka semata untuk mengekspresikan karakter kemudaannya yang masih suka bersenang-senang, namun juga sebagai bagian penting untuk tetap menjaga kebugaran pikiran, menghilangkan jenuh karena kuliah atau kesibukan lainnya, dan bahkan juga dapat menjaga stabilitas mereka dalam beragama.

Seperti kata Halim, salah satu Salafi muda asal Magelang yang sedang kuliah di Yogyakarta, “Lebih baik 99 kali ngaji [dan] 1 kali naik gunung,… daripada 100 kali ngaji tapi enggak tahu yang 100 persen itu bisa masuk utuh apa enggak [materi kajiannya], kena jenuh apa enggak.”

Naik gunung sudah menjadi hobi Halim sebelum aktif mengikuti kajian-kajian sunah di Yogyakarta. Setelah aktif di kajian-kajian Salafi, ia tetap melanjutkan hobinya karena menurutnya tidak ada aturan Islam yang melarang naik gunung. Pengetahuan ini ia dapatkan ketika mengikuti kajian sunah di Purworejo yang diisi oleh Ustadz Badrussalam, salah satu figur kenamaan Salafi kontemporer di Indonesia dan pendiri stasiun radio dakwah Rodja yang berbasis di Bogor.

Meski tidak ada larangan, Halim tetap menyadari bahwa kegiatan ini cukup rentan dengan pelanggaran terhadap norma-norma Islam. Salah satunya adalah larangan ikhtilat (bercampur baur dengan perempuan yang bukan mahram). Umum diketahui bahwa aktivitas pendakian gunung di Indonesia sering dilakukan bersama-sama tanpa pandang jenis kelamin, terlepas statusnya mahram atau bukan mahram.

Oleh sebab itu, Halim selalu berusaha semaksimal mungkin agar tidak melanggar larangan ikhtilat. Salah satu cara yang ia lakukan adalah menghindari pendakian bersama perempuan dan lebih memilih mendaki bersama dengan teman laki-laki.

Bagaimanapun juga, cara ini tidaklah begitu ketat seperti yang ia katakan. Ia juga mengaku pernah mendaki bersama teman-teman perempuannya dengan beberapa syarat atau aturan, antara lain; (a) social distancing atau jaga jarak (seperti dengan cara baris depan diisi kelompok perempuan sementara baris belakang adalah laki-laki), (b) jumlah perempuan dan laki-laki yang tidak boleh sama, dan (c) tenda yang harus pisah.

Beberapa peraturan ini mirip dengan kesenangan sekaligus pekerjaan Halim lainnya, yakni, menggambar. Ia mengaku sangat senang dan sudah lama menggeluti kesenangan menggambar. Hampir sama dengan mendaki gunung, hobi Halim pada gambar juga rentan sekali dengan pelanggaran pada norma Islam. Menurutnya, meskipun gambar diperbolehkan, ada aturan khusus dalam Islam yang melarang gambar makhluk bernyawa.

Larangan ini kemudian dijadikan Halim sebagai syarat utama bagi orang yang memesan gambar kepadanya. Ketika ada pemesan yang meminta gambar makhluk hidup secara utuh, ia akan menghapus mukanya atau bahkan kepalanya sebagai syarat utama sehingga gambar yang dibuatnya tidak menunjukkan seperti makhluk hidup.

Namun demikian, hampir sama dengan larangan mendaki gunung bersama perempuan, ia juga tidak sebegitu kaku dalam menerapkan syarat atau aturan ini. Ketika ada pemesan yang memaksanya untuk menggambar secara utuh dengan muka atau kepala, ia tetap akan menerima pesanan itu dengan cara mengganti gambar muka dengan emoticon. Kata Halim, “Ya sudah, akhirnya aku akalin pakai muka emoticon, kaya gitu, asal nggak nunjukkin kalau itu makhluk hidup. Tak kasih titik dua sama garis lengkung di bawah.” Halim mengatakan bahwa pemakaian emoticon ini diperbolehkan karena ada salah satu ustad Salafi Indonesia yang memperbolehkannya.

Selain obrolan santai, mendaki gunung dan menggambar, aktivitas lain yang dipilih oleh anak muda Salafi adalah olahraga. Kata Yoyok, salah satu Salafi muda asal Sumatera yang sedang kuliah di Yogyakarta, “Yang paling menyenangkan itu olahraga,… kalau kita butuh hal-hal menyenangkan, langsung olahraga.” Ia mengaku senang pada beragam jenis olahraga seperti badminton, futsal, dan voli.

Semua kegiatan ini, kecuali badminton, merupakan hobinya sejak kecil. Karena sudah mengakar kuat dalam dirinya, tidak mengherankan ketika ada kegiatan-kegiatan ekstra kampus yang berbenturan dengan jadwal olahraganya, ia lebih memilih untuk berolahraga.

Pilihan untuk mengedepankan kesenangannya bukan hanya dilakukan oleh Yoyok ketika berbenturan dengan kegiatan sekolah, namun juga ketika berbenturan dengan kegiatan keagamaan, seperti kegiatan yang seharusnya ia lakukan setelah menjalani salat Maghrib berjamaah, yaitu, membaca al-Quran. Dalam pengakuannya, sering kali ia lalai membaca al-Quran hanya karena terlalu asyik membaca komik di webtoon, salah satu komik daring anak muda di media sosial LINE yang berisi banyak genre, mulai dari drama, fantasi, komedi, aksi, roman, hingga horor.

Beberapa contoh singkat aktivitas menyenangkan di atas memberi pemahaman penting bahwa betapapun ketatnya ajaran Islam, khususnya versi Salafi, yang mengatur atau bahkan melarang kesenangan-kesenangan duniawi, bukan berarti membatasi mutlak para pengikutnya untuk tetap bersenang-senang. Ada banyak pilihan dan cara untuk tetap mengekspresikan kebutuhannya terhadap hiburan-hiburan yang menyenangkan, meski di waktu lain mereka juga menampilkan ketaatan pada agamanya.

Dengan kata lain, meskipun mereka ingin tampil saleh, secara bersamaan mereka juga tetap ingin bersenang-senang. Hal ini bisa terjadi karena tidak semua pengetahuan keagamaan yang sudah diterima oleh anak-anak muda Salafi (dari ustad, tempat belajar seperti kajian rutin dan pesantren, atau media seperti buku, internet dan media sosial) langsung bisa diterapkan secara mutlak begitu saja dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka tetap memerlukan waktu dan ruang yang tepat untuk menerapkan itu semua.

Selain itu, mereka juga tidak jauh berbeda dengan anak-anak muda pada umumnya, yang terkadang masih suka bingung dengan jati dirinya dan suka mencari atau mencoba hal-hal baru dan hal-hal yang menyenangkan. Atas dasar ini, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa meningkatnya ketertarikan anak muda Salafi pada Islam, khususnya versi Salafi, bukan berarti menjamin juga meningkatnya tingkat ketaatan mereka pada agama, karena mereka juga memerlukan aktivitas-aktivitas di luar agama, terlepas dalam aktivitas tersebut bersinggungan dengan aturan-aturan Islam atau tidak.

Gambar adalah hasil karya Muhammed Zahid Bulut berjudul Mosque Facade at Night dengan lisensi Free to Use yang diunduh dari https://www.pexels.com/photo/mosque-facade-at-night-12763317/

Shares:
Show Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *